Sebuah Kegamangan….Refleksi Buat Diriku

Hallo teman-teman ! Hari ini sengaja pengen nulis karena gak kerasa hari ini tepat satu tahun aku memutuskan untuk resign dari kerjaan. It’s not to be easy !! ya benar. Tidak mudah memutuskan hal itu. Dilema pun sering menghantui, apalagi jika sudah terserang virus bosen dan merasa “unfaedah” rasanya pengen menyandang status sebagai karyawan lagi !!

Hmmm tapi semua itu bukan suatu hal yang bijaksana juga sih. Jika menuruti semuanya hanya karena takut akan situasi sosial, anggapan orang dsb. Lantasssss apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku selama satu tahun ini? Well aku akan sedikit menulis tentang hal ini. Semoga bisa membantu khususnya buat diriku sendiri atau teman-teman yang sedang mengalami hal yang sama…

Working Mom or Stay at Home Mom???

Tahun lalu tepatnya tanggal 23 November 2018 adalah hari terakhir aku masuk kantor. Rasanya campur aduk kalau diinget-inget. ENtah kenapa satu bulan sebelumnya aku matang banget mengajukan surat resign. “Pokoknya aku harus resign, udah gak betah, pengen usaha sendiri, pengen bebas, pengen ini, pengen itu ” begitu fikirku waktu lalu. Dukungan datang dari suami. Karen saat itu kita emang sedang merencanakan suatu project untuk usaha kami. Dengan harapan aku bisa membantu urusan administrasi atau pemasaran lah. Sedangkan suami biar konsen produksi. Namun beberapa orang juga ” nggandoli” keputusanku tersebut. Beberapa teman, keluarga, atau atasan. Ya mungkin ada baiknya, maksud mereka adalah apa gak sayang meninggalkan pekerjaan dan teman-teman. Tapi karena alasanku saat itu adalah keluarga dan ingin berwiraswasta jadi mereka cukup mendukung.

Oke singkat cerita akhirnya, surat resign itupun disetujui atasan. Dan hampir satu bulan lebih saya menunggu penggantiku di kantor. Tapi ternyata disitulah titik kegalauan terjadi. Mungkin karena sudah merasa plong, gak ada mikir beban kerjaan jadi sangat menikmati hari-hari terakhirku sebagai karyawan itu. Tapi rasanya kok berat gitu ya mau berpisah dengan sahabat-sahabatku. Biasanya makan siang bareng-bareng, ngerumpi, atau sekedar make up bareng hmmm rasanya kok berat ya mau melepas predikat sebagai karyawan. Ini sangat berbeda dengan tekad bulatku beberapa bulan lalu yang ngotot banget untuk resign.

Waktupun berlalu akhirnya aku resmi resign…minggu-minggu pertama rasanya lega. Bisa istirahat dirumah, ditambah karena sempat beberapa kali kesehatanku terganggu karena kecapekan kerja. Maklum jarak dari rumah ke kantor cukup jauh. Jadi moment istirahat seperti ini sangat istimewa kurasakan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu rencana-rencana yang sudah kususun ternyata Allah sang Maha mengatur punya rencana lain. project-projectku masih terpending. Entah karena keterbatasan modal, atau karena memang “culture” ku yang ternyata belum siap untuk jadi sepenuhnya wirausaha. Yang menurutku semua diatas “ketidakpastian” (maksudnya gak bisa santai-santai tanpa inovasi nunggu tanggal gajian kayak karyawan hahahahha) . Walaupun aku tahu kalau emang niat dan beneran ditekuni tentunya wirausaha jauh lebih menghasilkan daripada aku menjadi karyawan (bukan bermaksud apa-apa).

Dilain sisi pun aku juga tidak bisa banyak membantu di usaha suamiku, soalnya emang beda bidang dengan keahlianku. Walapun masih ada aja sih projectku yang berjalan tapi aku rasa ini jauh dari target atau alasan aku pengen resign waktu itu…Tak hanya itu serangan” Culture Shock” pun melanda diriku. diawal aku sangat merasa asing dengan dunia seperti ini. walaupun begitu suami tetap memberikan dukungan, juga support dengan memfasilitasi aku untuk bekerja. Memberi modal. ngasih kesempatan ikut urus usahanya yahh mugkin sekedar biar aku gak bosen aja kali ya hahahahah. Tapi aku akuin emang support dari orang-orang terdekat seperti itu yang aku butuhkan saat itu.

Singkat cerita aku nyoba lakuin ini itu menjajal usaha ini itu… tapi belum membuahkan hasil. Stress rasanya. Ternyata berwirausaha tidak semudah itu ya. Trus suatu ketika suami bilang ” Udah kamu itu gak usah bingung-bingung bantu ikut gedein usahaku aja” ada benernya sih kata-kata suami itu. Tapi rasanya masih ada yang ngganjal.

Tidak Ada Yang Bisa Dilakukan selain Berdamai dengan keadaan

Hingga pada akhirnya pencarian akan kegamangan selama ini berangsur-angsur terkuak. Aku mulai berkomunikasi dengan diriku sendiri. Mencari-cari apa yang aku cari selama ini. Berdamai dengan keadaan…

Ternyata yang aku butuhkan adalah support dari diriku sendiri… Maaf dari diriku atas banyak hal yang tidak aku kerjakan dengan tulus. Dan mungkin juga aku terlalu banyak mendengar kata-kata orang sehingga aku capek dengan ini semua. Capek karena diriku sendiri.

Baiklah yang berlalu biarlah berlalu, aku merasa rugi dengan satu tahunku yang terbuang percuma ini. Tapi tidak ada salahnya juga, semoga satu tahun ini bisa ngasih aku pelajaran buat kedepannya. Semua kejadian yang terjadi selama satu tahun ini juga menyadarkanku bahwa semua harus dikerjakan dengan sepenuh hati. Aku yakin jika aku sungguh-sungguh pasti aku bisa. Dan jadi apapun itu lakukan yang terbaik. Tidak ada istilah working Mom or Stay At Home Mom.. karena keduanya adalah pilihan masing-masing. Dan kalau akusih pengen jadi WOrking Mom At Home yang gak ninggalin kewajbanku sebagai istri, apalagi bentar lagi ada debay yang kami tunggu-tunggu…sudahlah ambil semua hikmah dan jalani sisanya dengan terbaik. Dan aku yakin apapun yang terjadi ini adalah yang terbaik buat aku.

Ini tulisan untuk refleksiku sendiri. dan ternyata gak mudah nulis ini, karena banyak hal detil yang gak bisa diungkapkan entah karena apa. Yang jelas semoga bisa sedikit mengurai gamang-gamang dihati…

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *