#Jagalaut Sepenggal Kisah Upaya Pelestarian Laut dari Kita Untuk Indonesia

Meski belum genap satu tahun usianya, Kania sudah menunjukkan ketertarikannya pada laut. Saat pertama aku dan suami ajak dia ke pantai, Kania sangat excited. Matanya terpukau ketika melihat hamparan pasir putih yang luas dan birunya laut. Sesekali gadis kecilku itu kaget mendengar deburan ombak yang cukup keras.

Ya, mungkin karena Kania “nurun” bapak ibunya yang emang seneng banget maen ke laut kali ya. Jadi saat pertama kali kami ajak dia untuk melihat laut tidak ada sedikitpun dia rewel. Kami berdua memang senang menikmati keindahan laut. Dari sekedar duduk santai di pantai hingga menjajal berbagai aktifitas di laut lainnya.

Kalau lagi kangen banget pantai dan laut, kita suka tiba-tiba dateng ke pantai cuma buat sekedar duduk-duduk diatas pasir. Lalu menghabiskan waktu berjam-jam melihat ombak. Walaupun jarak rumah kami ke pantai tidak bisa dikatakan dekat. Dibutuhkan waktu lebih dari 2 jam perjalanan. Kebayangkan kan, capeknya berkendara kepantai dari rumah kami. Belum lagi medan yang ditempuh juga berkelok-kelok. Cukup mampu membuat perut saya mual. Tapi, ya gimana lagi emang udah candu, mau gak mau kalau udah rindu ya harus bertemu. hehehhe

Ngomong-ngomong soal laut dan pantai ada hal yang mengelitik benakku saat ini. Bukan karena kemaren-kemaren lagi ramai soal keputusan kontroversial menteri kelautan. Tapi lebih ke “memikirkan” nasib laut. Heheheh (futuristik banget yah aku) Ya emang gitu, karena terakhir saya ke laut kondisi cuaca sedang kurang baik. Angin berhembus kencang, hingga nelayan tidak bisa melaut. Kebetulan saya memang punya kerabat didaerah pesisir. Beliau bercerita kalau cuaca akhir-akhir ini susah diprediksi. Hal ini tentu berdampak ke hasil tangkapan mereka.

Ini seperti memberi signal bahwa, laut kita saat ini sedang dalam keadaan yang kurang baik. Ini bukan soal feeling – feelingan loh ya. Karena emang nyatanya saat ini laut kita sedang tidak baik-baik saja.

Lebih Jauh Mengenal Laut Indonesia

Hampir 1/3 dari wilayah bumi adalah berupa lautan. Indonesia sendiri merupakan negara maritim yang memiliki lebih dari 17.500 pulau dan 81.000 kilometer garis pantai. Laut mempunyai peranan yang sangat besar untuk menopang kehidupan mahluk hidup di bumi. Tidak hanya itu laut juga merupakan elemen penting dalam keseimbangan ekosistem di muka bumi ini. Jika kelestarian laut terjaga maka seluruh biota laut yang ada didalamnya pun turut terjaga. Maka dari itu menjaga kelestarian laut adalah suatu keniscayaan.

Sumber : Katadata.co.id

Sejak dulu laut Indonesia dikenal memiliki “kesaktian” yang mendunia. Kenapa aku sebut kesaktian? Ya karena laut Indonesia memiliki banyak sekali kekayaan yang tidak dimiliki oleh laut negara lain. Mulai dari keragaman ikan dan hewan lautnya hingga keindahannya yang menjadi magnet tersendiri bagi para wisatawan dalam dan luar negeri.

Bahkan akhir-akhir ini ketika membaca berita kita akan menemukan headline tentang pencurian ikan yang dilakukan kapal berbendera asing. Hal ini karena memang keayaan laut Indonesia yang melimpah ruah.

Laut Adalah Rumah Kami

Ribuan bahkan jutaan spesies hidup didalam laut. Terdapat hampir 8000 spesies hewan hidup di laut Indonesia. Selain itu Indonesia juga merupakan salah satu negara yang mempunyai terumbu karang terbaik di dunia. Menurut Greenpeace luas terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi dan menyumbang lebih dari 18 % luas terumbu karang di bumi. Terumbu karang adalah merupakan komponen penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Ribuan hewan laut hingga ganggang berlindung dan menggantungkan hidupnya pada terumbu karang.

dokpri : Foto Underwater saat snorkling

Dibalik peran besarnya ternyata terumbu karang menyimpan keunikan lain yang tidak banyak orang ketahui. Setiap tahunnya terumbu karang hanya tumbuh 1 cm. Sehingga dibutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terumbu karang tumbuh menjadi besar.

Namun sayangnya saat ini terumbu karang dunia terus berkurang setiap tahunnya. Pengeboman ikan dan penggunaan jaring menjadi salah satu alasan terus berkurangnya jumlah terumbu karang.

Tentu ini merupakan kabar buruk bagi kita semua, bukan hanya kita tidak bisa melihat keindahan terumbu karang. Namun lebih parah lagi karena ekosistem laut akan terganggu.

Memetik Berkah dari Laut

Selain menjadi rumah bagi ribuan spesies, laut juga memjadi sumber berkah bagi manusia. Tak sedikit yang menggantungkan hidupnya pada laut. Mulai dari nelayan, petani rumput laut, hingga pelaku usaha pariwisata mengandalkan laut sebagai penghasil pundi-pundi rupiahnya. Terlebih saat ini, travelling menjadi bagian dari gaya hidup kebanyakan milenial. Maka, pariwisata laut menjadi salah satu yang menjadi primadona.

Beruntungnya Indonesia memiliki wilayah geografis yang sangat strategis. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan garis pantai lebih dari 99.000 kilometer. Wilayah Indonesiapun 2/3 nya adalah lautan. Jadi tak ayal jika Indonesia dijuluki negara maritim. Setiap harinya ribuan atau bahkan jutaan orang di negara kita ini mencari nafkah dari laut.

Dokpri: Pantai Geleyang, Karimun Jawa

Siapa sih yang gak seneng berlibur ke pantai? Untuk menghilangkan penat pantai adalah pilihan yang kebanyakan orang pilih. Tak terkecuali dengan saya. Mulai saya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama pantai selalu jadi list untuk dikunjuni dengan keluarga. Terlebih saat itu saya mengikuti ekstrakulikuler yang sering mengadakan kegiatan di pantai. Alhasil pantai memang selalu jadi favorite menghabiskan waktu disaat liburan.

Pasti kalian juga kan? Hingga saat ini pun Pantai memang jadi destinasi favorite kami, bahkan Kania jika diajak ke Pantai selalu riang bawaannya. Sekedar mendengarkan deburan ombak atau menikmati sunset.

Tapi pernah gak sih kepikiran? kalau pantai kesayangan kalian ini bakal hilang? Tenggelam karena permukaan air laut yang terus naik setiap tahunnya. Atau tergerus abrasi yang semakin hari semakin menjadi-jadi? Sedih pasti dong ya! Ini bukanlah sekedar lelucon belaka. Karena ancaman tersebut memanglah nyata. Saat ini

Apa yang Terjadi Jika Laut Rusak ?

Faktanya saat ini laut Indonesia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Banyaknya sampah dan aktifitas merusak laut lainnya membuat laut Indonesia diambang “kepunahan”. Untuk lebih jelasnya kita bisa lihat melalui data infografis berikut :

Infografis : Tri Wahyuni

Sampah yang berada di laut ini bersumber dari banyak hal. Mulai dari sampah sehari-hari, hingga sampah industri. Setiap tahunnya jumlah sampah yang dibuang ke laut terus bertambah.

Namun ternyata bentuk kerusakan laut tidak hanya jumlah sampah yang tiap tahunnya terus bertambah, namun masih ada banyak keadaan dimana laut itu dikatakan rusak.

sumber : mongabay.co.id

Apa saja Sih Bentuk Kerusakan Laut Indonesia?

Sebenarnya saat ini laut Indonesia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Kerusakan nyata terlihat didepan mata. Mungkin bagi kita yang tinggal diperkotaan tidak akan merasakan dampaknya secara langsung saat ini. Namun, bukan berarti kita harus mengabaikan masalah ini. Karena keberlangsungan laut merupakan tanggung jawab kita semua.

Lantas apa saja sih bentuk kerusakan laut Indonesia saat ini ?

  • Meningkatnya jumlah sampah yang dibuang ke laut
  • Tercemarnya air laut akibat limbah industri yang dibuang ke laut
  • Rusaknya terumbu karang
  • Punahnya hewan laut akibat perburuan liar
  • Abrasi karena perubahan iklim global
  • Pengasaman air laut yang menyebakan terganggunya ekosistem laut

Tentu kerusakan laut tersebut perlu kita cegah agar kelestarian laut ini tetap terjaga.

Pandemi, Buah Simalakama Bagi Laut Indonesia

sumber : icloudhost.com

Saat ini seluruh dunia sedang berjuang bersama melawan pandemi covid-19. Para petugas medis, pemerintah hingga relawan berjibaku untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Seluruh dunia sedang berduka lantaran virus ini sudah menginfeksi lebih dari sepuluh juta orang di seluruh dunia. Aktifitas perekonomian pun kian melesu. Jutaan orang kehilangan pekerjaan karena perusahaan tidak dapat lagi memperkerjakan mereka.

dokpri : Laut Karimun Jawa

Tak berhenti disitu ada ribuan usaha kecil yang harus gulung tikar karena menurunnya daya beli masyarakat. Tingkat pertumbuhan ekonomi dunia pun juga mengalami penurunan.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah jutaan rencana perjalanan harus tertunda. Tanpa kepastian kapan semua akan berakhir. Semua orang hanya bisa meradang berharap pandemi ini segera berlalu.

Namun dibalik banyaknya kerugian akibat munculnya pandemi ini ternyata ada juga hikmah yang bisa kita petik. Karena pasti ada pelangi setelah hujan pergi :). Hal ini karena berkurangnya kontak manusia dengan laut selama masa pandemi ini memberikan waktu bagi laut untuk “merefresh” dirinya dari segala kegiatan manusia. Begitu pun juga dengan laut.

dokpri : Laut Tanjung Gelam yang banyak dikunjungi wisatawan

Sebelum pandemi covid-19 datang, pantai-pantai di Indonesia setiap harinya selalu ramai dikunjungi para pelancong. Beberapa tahun terakhir jumlah diver yang menyelam di laut Indonesia juga terus meningkat. Hal ini berpotensi merusak ekosistem laut, seperti rusaknya terumbu karang atau sampah yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan setiap harinya.

Keindahan dan manfaat dari laut memang beragam dan tak ternilai harganya. Namun, jika tidak kita jaga kelestariannya bukan tidak mungkin keindahan laut hanya akan menjadi cerita untuk anak cucu kita. Maka upaya untuk pelestariannya adalah suatu hal yang perlu.

Bukan saja hal yang perlu, melainkan sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga kelestarian laut. Saat ini sudah banyak dari kita yang sadar akan pentingnya menjaga laut. Namun, sekiranya hal tersebut akan menjadi sia-sia belaka jika tidak didukung oleh semua stakeholder yang terkait.
Masyarakat, pemerintah, pelaku usaha juga harus berperan langsung dalam upaya menjaga pelestarian laut.

Upaya #Jagalaut ditengah Pandemi

Dengan adanya pandemi ini sebenarnya laut kita diuntungkan dengan berkurangnya aktifitas manusia dan memberi ruang untuk laut beristirahat. Namun, permalasahan tidah berhenti sampai disitu. Jika sektor pariwisata masih ditutup banyak pedagang di daerah wisata pantai yang hampir 4bulan ini tidak mendapatkan pemasukan karena ditiadakannya kunjungan wisatawan.

Tentunya hal ini perlu dijadikan bahan pertimbangan juga bagi pemerintah. Sehingga saat ini pemerintah mulai merumuskan wacana pembukaan sektor pariwisata dengan protokol kesehatan ketat. New normal atau tatanan kehidupan baru memang menuntut kita untuk segera beradaptasi dengan kehidupan baru, terutama pada sektor pariwisata. Ini berarti laut yang semulanya beristirahat akan segera “pulih” kembali. Namun, perlu kita ingat dengan membaiknya kondisi laut saat ini harus diteruskan agar kedepannya laut memang benar-benar bisa “terlahir” kembali.

Semua Bisa Berperan dalam Pelestarian Laut

Sebagai masyarakat kita bisa membantu upaya ini dengan tidak membuang sampah sembarangan di pantai, terlebih di laut. Karena saat ini ada banyak sampah plastik yang terbawa ke laut setiap harinya. Hal ini tentu membawa dampak buruk bagi ekosistem laut. Tidak hanya sekedar mengganggu mata namun lebih serius jika sampah plastik ini termakan oleh hewan laut. Mereka akan mati, atau ikan akan membawa membawa sampah plastik tersebut dalam perut mereka, dan kita konsumsi.
Lebih mirisnya lagi jika hal ini membuat hewan langka menjadi punah. Tentu hal ini menjadi masalah serius jika tidak segera kita tangani dengan serius.

Saat ini adalah saat yang tepat memulai kebiasaan baru, setelah pandemi ini usai tentunya kita ingin berwisata dengan nuansa yang baru. Maka dari itu apa yang sudah baik aat ini perlu kita pertahankan.

Sumber : katadata.co.id

Pemerintah dalam hal ini juga mempunyai peranan yang tak kalah penting. Lewat kebijakan- kebijakannya pemerintah diharapkan mampu memberikan solusi dari masalah yang saat ini kita hadapi. Terlebih saat ini, jika kata Bapak Presiden “Rem dan gasnya harus seimbang”. Yang dimaksudkan adalah semua sektor harus diperhatikan. Jangan sampai ekonomi dan pariwisatanya ditingkatkan namun lalai akan sektor kesehatannya begitupula sebaliknya. Sehingga peran pemerintah dalam membuat kebijakan seperti pembatasan wisataan atau jam kunjung yang diharapkan mampu mencegah penularan covid-19 di masa new normal saat ini.

Selain itu peran pemerintah di masa setelah pandemi ini juga cukup vital. Dalam menghadapi masalah-masalah mulai dari tercemarnya laut, pencurian ikan yang marak oleh nelayan asing, atau bahkan masalah ekosistem laut yang rusak. Tentunya kita harap kebijakan pemerintah tidak hanya bersifat politik melainkan memang benar memberikan solusi.

Hal yang tidak kalah penting adalah peran serta pelaku usaha untuk turut serta dalam upaya menjaga laut. Dengan tidak membuang limbah usaha mereka kelaut. Karena saat ini air laut terutama yang berada di kota besar tercemar oleh limbah usaha yang dialirkan ke laut.

Seperti tak mau kalah beberapa aktifis dan komunitas peduli lingkungan pun sudah banyak yang tergerak dengan turut serta dalam upaya pelestarian laut. Mulai dari kegiatan bersih pantai hingga penanaman mangrove. Seperti yang kita tahu, mangrove ini bisa mencegah air laut menggerus pantai atau abrasi.

Sumber : itn.ac.id

Di daerah Pantai di Malang, sudah banyak kegiatan aktifis dari berbagai kalangan untuk menanam mangrove ini. Bakau atau yang lebih kita kenal dengan mangrove ini ditanam dengan tujuan untuk mengendapkan lumpur di pohon bakau untuk mencegah intrusi air laut ke daratan. Yuk kita ikuti juga jejak mereka !

dokpri : sunset di Laut Utara Jawa

Kita semua pasti tidak ingin jika laut Indonesia yang kita sayangi ini tercemar dan rusak begitu saja kan? kita pasti ingin mewariskan laut Indnesia dengan sejuta keindahannya ini kepada anak cucu kita kelak kan? Tidak ada kata terlambat. Semua upaya yang kita lakukan, meskipun kecil akan membawa dampak yang besar dikemudian hari.

Tentu hal ini yang memberi saya keyakinan bahwa jika kita bersama-sama memiliki tekad yang kuat untuk selalu menjaga laut pasti kelak Kania dan anak cucu kita nanti akan bisa menikmati keindahan laut Indonesia. Tidak hanya sekedar cerita belaka.

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-ibu doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa anda lihat di sini

#PerubahanIklimKBR

8 Comments

  1. Avatar Romadhoni Afri 08/07/2020 at 18:29

    Semoga lekas membaik bumiku. Segera bisa kepantai lagi

    Reply
    1. Trie Rengganis Trie Rengganis 09/07/2020 at 15:52

      Aamiin biar segera jalan jalan lagi ya

      Reply
  2. Avatar Inthehome.store 08/07/2020 at 18:42

    👍

    Reply
    1. Trie Rengganis Trie Rengganis 09/07/2020 at 15:52

      Thanks

      Reply
  3. Avatar Moch Niky 09/07/2020 at 13:11

    👍

    Reply
    1. Trie Rengganis Trie Rengganis 09/07/2020 at 15:52

      Thanks

      Reply

Leave a Reply to Traviskax Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *